Sign up with your email address to be the first to know about new products, VIP offers, blog features & more.

Asa dalam Selembar Batik Bantengan

Melestarikan budaya bangsa melalui Batik Bantengan. (foto dokumentasi pribadi)

Kesenian bisa menjadi arena berbagi kepada sesama. Menggandeng mereka yang membutuhkan bantuan. Sejatinya kesuksesan akan terasa maknanya ketika diraih bersama-sama.

Batik Bantengan yang digagas oleh penerima SATU Indonesia Awards (SIA) 2017 Anjani Sekar Arum erat kaitannya dengan kesenian Bantengan. Budaya lokal asli Batu tersebut berkembang sangat pesat sejak 2008. Anjani mengamati, hampir di setiap desa terdapat kelompok kesenian Bantengan. Bahkan pada 2014 Gebyar Bantengan Nusantara di Kota Batu meraih rekor MURI dengan 1.698 peserta.

Warga Kota Batu sejatinya menyukai event budaya. Awalnya kesenian Bantengan hanya tampil saat perayaan 17 Agustus, kini kesenian itu juga muncul di acara selamatan desa. Hal tersebut mendorong Anjani melestarikan kesenian Bantengan sebagai ciri khas Kota Batu dalam bentuk batik.

Pada 2013 Anjani membuat batik untuk kostum pegiat kesenian Bantengan. Sebelumnya mereka menggunakan kostum berwarna hitam yang terkesan mistis. Bahkan ada pegiat yang hanya mengenakan celana jeans. Padahal kostum menjadi pendukung dari menarik tidaknya sebuah kesenian. “Tidak mudah mengajak pelaku kesenian Bantengan yang mayoritas petani memakai batik karena harganya yang cukup tinggi,” kata Anjani yang ditemui penulis di Anjani Batik Galery, Dusun Binangun, Desa Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur.

Batik Bantengan, batik khas Kota Batu. (foto dokumentasi pribadi)

Bulan Agustus 2014 Anjani merilis batik Bantengan. Ia menggelar pameran tunggal di Galeri Raos. Saat itu atas dukungan teman-temannya, ketua Dekranasda Kota Batu bersedia hadir. Walaupun belum melihat secara langsung, pada saat itu juga beliau menyatakan batik Bantengan sebagai batik khas Kota Batu.

Ketika mencetuskan ide menyelenggarakan pameran, Anjani belum berniat membisniskan batik Bantengan. Niatnya semata menciptakan karya seni. Anjani memberi kebebasan kepada masyarakat. “Jika mereka suka, silakan membeli. Jika tidak, saya tidak akan memaksa,” kata Anjani.

Anjani bersyukur masyarakat memberikan respon yang baik. Hanya tersisa 6 batik dari 34 karya yang dipamerkan. Anjani tidak menyangka batiknya terjual. Pasalnya saat proses produksi, ia dalam kondisi hamil. Tatkala pameran anaknya baru berumur 1 bulan.

Anjani mengenal kesenian Bantengan sejak kecil. Apalagi salah satu penggerak kesenian tersebut adalah orangtuanya. Rumahnya menjadi basis komunitas pegiat budaya Bantengan. Anjani sering menyaksikan proses pembuatan kepala banteng sampai gerak-gerik orang yang menirukan aksi banteng.

Semua pengalaman itu diaplikasikan Anjani dalam batik Bantengan. Selain motif kepala banteng dan rangkaian kesenian Bantengan, Anjani mengangkat motif bunga tujuh rupa. Pertimbangannya, ada aliran yang melarang penggunaan batik dengan motif berunsur nyawa.

Setiap bulannya Anjani memproduksi 70-100 lembar batik cap dan 100 lembar batik tulis. Ia bersyukur, batik Bantengan selalu habis terjual. Berbeda dengan batik cap yang lebih cepat pengerjaannya, batik tulis sangat bergantung pada cuaca dan lebih panjang prosesnya.

Tak hanya menjual batik kontemporer dengan kisaran harga Rp 300 ribu sampai Rp 1,5 juta, Anjani juga menawarkan batik klasik yang hanya diminati orang-orang tertentu. Batik klasik tersebut dihargai Rp 2,5 juta sampai Rp 12 juta.

Pada dasarnya batik Bantengan didominasi warna hitam tapi tidak menutup kemungkinan mengikuti warna yang tengah trend di masyarakat. Terkait perda bahwa setiap ASN wajib mengenakan batik khas Kota Batu, kini batik Bantengan semakin dilirik.

 

Regenerasi

Faktanya Anjani jarang berhadapan dengan pembeli. Ia mengaku tidak menguasai ilmu tawar-menawar. Anjani memandang batik Bantengan sebagai karya seni yang tidak bisa ditentukan harga jualnya. “Contohnya, ada pelaku kesenian Bantengan yang ingin membelikan batik untuk istrinya. Ia hanya membawa uang Rp 40 ribu. Saya akan memberikan meskipun harga sebenarnya Rp 400 ribu,” ujar Anjani.

Ketika wisatawan mendatangi Anjani Batik Galery, Anjani membiarkan mereka berinteraksi dengan para perajin. Ia membebaskan perajin menetapkan harga.

Anjani sadar batik rawan penjiplakan. Namun ia percaya pelanggan tidak akan berpaling darinya. “Ada keinginan berkembang tapi saya bukan pebisnis. Kami memulai dari kecintaan, ternyata banyak penikmatnya,” ujar Anjani.

Perlahan batik Bantengan ditawari pinjaman kredit dari beberapa bank. Namun Anjani bersikeras mandiri. Nyatanya cara tersebut semakin meningkatkan skala usahanya dibandingkan pembatik lainnya. “Kami memiliki rekanan yang sangat banyak. Saya menganggap perajin sebagai keluarga, bukan karyawan,” tutur Anjani yang mendeklarasikan Anjani Batik Galery serupa rumah para pembatik.

Batik Bantengan melibatkan pembatik anak sebagai bentuk regenerasi. (foto dokumentasi pribadi)

Anjani menjelaskan, Sanggar Batik Andhaka yang didirikannya dilatari kesulitan memperoleh pembatik mengingat Kota Batu bukan kota seni. Sanggar tersebut dibentuk sebelum merilis batik Bantengan. Tak jarang pembatik yang telah lama bekerja dengannya memilih membuka usaha sendiri setelah mengetahui keuntungan yang cukup menggiurkan.

Anjani yang sebelumnya bekerja sebagai guru memutuskan mengundurkan diri. Ia melihat potensi para siswa yang luar biasa. Mereka mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh sehingga menghasilkan karya yang indah. “Mereka perlu digali potensinya,” tutur Anjani.

Sanggar Batik Andhaka difokuskan untuk anak-anak. Peminatnya sangat banyak. Setiap tahun diadakan pameran karya anak-anak dengan biaya yang dikumpulkan dari orang tua.

Tujuannya adalah menghadirkan pengalaman pada diri anak-anak untuk berinteraksi dengan masyarakat.

Selanjutnya muncul ide mengembangkan batik anak-anak. Selama pameran di luar negeri, karya anak-anak itu yang paling laris. Satu produk tampak berbeda dengan lainnya meskipun motifnya sama. Motifnya pun kadang di luar dugaan. Anjani menilai kreativitas anak-anak itu jauh lebih bagus dibandingkan orang dewasa.

Guna mengatasi persoalan regenerasi pembatik anak, Anjani bekerja sama dengan sejumlah sekolah. Pembatik anak yang telah lama dibinanya kini mengajar di ekstrakurikuler membatik. “Saya hanya menjaga agar batik tidak rapuh,” tutur Anjani.

 

Kebanggaan

Saat ini terdapat 39 pembatik anak dengan kelompoknya masing-masing. Mereka memiliki peralatan membatik di rumah. Dengan demikian anak-anak bisa tetap bisa bersekolah dan bermain. Proses produksi dari menggambar sampai mencanting dikerjakan sendiri sementara proses pewarnaan dilakukan di sanggar. “Awalnya kami fasilitasi alat. Selanjutnya mereka membeli sendiri dari hasil penjualan batik,” tutur Anjani.

Selain pembatik anak, ada 19 pembatik dewasa. Dari jumlah tersebut 6 pembatik berada di galeri untuk mengerjakan pewarnaan. Sisanya bekerja dari rumah. “Mencanting adalah proses yang membosankan. Berada di rumah membuat mereka bisa mengerjakannya sambil mengasuh anak atau berjualan rujak cingur” ujar Anjani.

Pemasaran produk selain dilakukan anak-anak secara online melalui Instagram, juga secara offline. Batik dihargai Rp 600 ribu sampai Rp 800 ribu. “Dari jumlah tersebut dipotong 10% untuk  pajak, listrik, peralatan mewarnai, sampai packaging,” kata Anjani.

Anjani menekankan kepada anak-anak bahwa penghasilan yang diterima merupakan bonus. Membatik adalah hiburan, bukan pekerjaan. Anjani turut senang ketika ada anak yang mampu membeli motor untuk orangtuanya dari bonus tersebut. Demikian pula kepada para perajin. Anjani selalu menempatkan dirinya setara dengan mereka.

Anjani juga membebaskan pembatik anak berkomunikasi dengan turis asing. Dengan demikian mereka sadar bahwa karyanya diminati. Dari pengalaman tersebut anak belajar negosiasi harga.

Ketika wisatawan hendak membayar, Anjani mengusulkan untuk menggunakan mata uang asli negara tersebut. Dengan demikian anak-anak merasakan kebanggaan tersendiri. “Batik kami pernah dijual di bazaar di Taiwan dan Malaysia. Saya memberikan langsung mata uang asli negara tersebut ke anak-anak,” ujar Anjani.

Di bazaar tersebut ditayangkan pula video mengenai kesenian Bantengan. Dengan demikian orang asing menghargai filosofi yang terkandung di dalamnya.

Batik Bantengan tidak hanya diminati pasar dalam negeri juga luar negeri. (foto dokumentasi pribadi)

Sejak dulu Anjani tidak pernah mempromosikan Sanggar Batik Andhaka. Meskipun demikian anak-anak mendatangi sanggarnya. Cara tersebut dinilai lebih efektif sebab anak akan lebih lama bertahan.

Demikian halnya dengan pemasaran. Walaupun tidak dipasarkan secara online, batik produksi Anjani selalu laku terjual. Ada saja pengunjung yang datang ke galeri. Terkadang pihak hotel mengantarkan turis ke galeri. Sesuatu yang mustahil terjadi dalam sebuah bisnis. Anjani tidak ingin dipandang sebagai pengusaha yang harus dihormati. “Rejeki itu akan terus mengalir karena hidup adalah perjalanan yang harus dilakoni,” kata Anjani.

Selain buyer dari Jakarta, batik Bantengan juga diminati perbankan. Anjani pernah mendapat pesanan 900 lembar batik untuk souvenir dari salah satu bank.

Anjani bersyukur sekarang semakin mudah mencari cinderamata batik di Kota Batu. Sebelumnya hanya ada batik apel yang merupakan batik khas Kota Batu. “Ketika melihat batik Bantengan, orang sudah tahu itu saya yang membuat,” tutur Anjani.

 

Permainan Hidup

Dalam kehidupan tentu kita akan menjumpai hambatan. Hari ini ditangisi, esok sudah terobati. Seperti kisah Anjani yang pernah kehabisan uang. Di waktu yang bersamaan ia harus memberi upah Rp 100 ribu kepada setiap perajinnya. Hingga Anjani terpaksa menggadaikan kamera digital miliknya. Tak sampai 1 minggu ia sudah kebanjiran pesanan lagi.

Setiap awal tahun Anjani selalu mencanangkan impian. Pada 2018 ia ingin memiliki galeri. Meskipun saat itu belum punya uang, Anjani bersyukur mimpinya terwujud.

Berikutnya Anjani bermimpi punya tanah di Desa Bumiaji. Bulan Januari saldo di tabungannya Rp 2 juta. Bulan Mei baru ada saldo Rp 7 juta. Setelah mendapatkan tanah Anjani harus membayar Rp 10 juta. Kekurangan Rp 3 juta tertutupi dari penjualan batik.

Tak lama pemilik tanah menyerahkan akta karena terlilit utang. Ia memohon kepada Anjani untuk memberikan Rp 150 juta. Sementara itu sisanya Rp 190 juta bisa dicicil.

Setelah ditolak 4 bank atas pinjaman yang diajukannya, Anjani meminjam uang ke keluarga dan temannya. Pasalnya sebuah bank bersedia mengabulkan pengajuan pinjamannya dalam satu minggu ke depan.

Nahas keesokan harinya bank tersebut mengabarkan bahwa pengajuannya ditolak. Sementara itu pinjaman dari keluarga dan teman harus dikembalikan pada bulan depan. “Di luar pemikiran saya tiba-tiba ada orang dari Jakarta memesan 200 lembar batik. Uangnya dipakai untuk melunasi pinjaman. Kalau dipikir tidak masuk akal,” kata Anjani.

Anjani merasa berada dalam sebuah permainan. Setelah urusan tanah selesai, sang kakek menyarankannya melakukan peletakan batu pertama di bulan Agustus. Padahal uang yang tersisa hanya Rp 7 juta. “Pembangunan menelan dana Rp 650 juta tanpa utang bank. Murni dari penjualan batik. Pelunasan berikutnya dari pinjaman teman selama 1 tahun. Andai saya cerita tidak ada yang percaya, tidak masuk akal,” ujar Anjani.

Atas semua lika-liku kehidupan itu, Anjani berpegang teguh untuk selalu berbuat baik. Tidak perlu merasa takut rugi atau takut tersaingi. Anjani mengungkapkan, ia berhasil menjadi finalis SIA setelah menyisihkan 3500 pendaftar. Bahkan sampai sekarang ia tidak tahu orang yang mendaftarkan namanya. “Tiba-tiba saya ditelepon. Ketika ditanya email saya tidak tahu tentang itu. Lalu saya minta tolong teman guru,” kata Anjani.

Anjani berterima kasih atas apresiasi SIA yang diterimanya. Peliputan media menjadi lebih luas. Ia juga lebih dipercaya oleh masyarakat. Pasalnya alumni SIA adalah individu yang memberi manfaat di lingkungannya masing-masing. “Kami semakin dikenal orang sehingga timbul keinginan untuk mendatangi Anjani Batik Galery,” tutur Anjani.

Batik Bantengan erat kaitannya dengan kesenian Bantengan, budaya lokal asli Batu. (foto dokumentasi pribadi)

Untuk itu Anjani berencana menjadikan Desa Bumiaji sebagai kampung wisata batik pada 2020. Ia tak menampik kenyataan bahwa mayoritas masyarakat Desa Bumiaji bekerja sebagai petani apel dan jeruk. Bahkan dahulu desa tersebut merupakan desa terkaya di Kota Batu.

Pada 2009 pertanian apel kehilangan kejayaannya. Masyarakat memilih menjual tanahnya. Kini masyarakat Bumiaji bekerja di lahan orang lain.

Anjani tergerak membangkitkan kehidupan masyarakat. Apalagi Desa Bumiaji didukung bentang alam yang lebih indah dibandingkan desa lainnya. Ia berniat mengajak karang taruna dan pokdarwis mengembangkan Desa Bumiaji sebagai destinasi wisata.

Anjani memperhatikan aktivitas masyarakat di ladang biasanya berakhir pada jam 12 siang. Ketimbang menghabiskan waktu dengan kegiatan tak berguna, ia ingin mengajak kaum ibu mengolah limbah batik. “Butuh waktu yang panjang,” tutur Anjani.

Anjani berharap melalui kampung wisata batik ada dana yang masuk ke kas desa. Dengan demikian Desa Bumiaji menjadi desa yang mandiri.

 

Belum Ada Komentar

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *