Sign up with your email address to be the first to know about new products, VIP offers, blog features & more.

Meneropong Persoalan Sanitasi dalam film ‘Leher Angsa’

Begitu banyak pelajaran kehidupan yang disampaikan film ‘Leher Angsa’. (sumber foto: https://id.wikipedia.org/wiki/Leher_Angsa)

Faktanya WC leher angsa masih menjadi impian atau bahkan tidak terpikirkan oleh mereka yang tinggal di pelosok Indonesia. WC leher angsa tak ubahnya barang mewah yang jauh dalam jangkauan.

Demikian pesan yang saya petik dari film ‘Leher Angsa’ garapan Alenia Pictures. Film bergenre drama yang dirilis pada 2013 tersebut mengisahkan sosok Aswin. Ia tinggal di Desa Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Di benak Aswin, seorang anak akan meniru kelakuan ayahnya. Ia mencontohkan dirinya yang senang mengikuti sang ayah mengadu ayam. Demikian halnya dengan temannya Johan yang gemar bermain biola seperti ayahnya.
Kekaguman itu seketika runtuh. Aswin menyaksikan sang ayah yang seharusnya berladang memohon kepada ibunya untuk menggantikannya. Baginya adu ayam itu lebih penting dari apapun.
Nahasnya, itulah terakhir kalinya Aswin melihat ibunya. Sang ibu meninggal tertimpa pesawat yang jatuh.
Tak butuh waktu lama bagi sang ayah untuk menikah lagi. Pernikahan itu terselenggara berbekal uang duka yang diberikan pemilik pesawat.
Kehadiran ibu tiri mampu mengobati kesedihan Aswin. Hubungan mereka terjalin akrab. Hingga suatu hari sang ibu mengelilingi rumah mencari WC. Aswin menunjukkan bahwa selama ini warga desa selalu buang hajat di sungai. Mereka berjalan selama beberapa menit hingga mencapai sungai.
Sang ibu kaget menerima kenyataan itu. Lantas Aswin menyampaikan, hanya kepala desa yang memiliki WC leher angsa. Sang ibu semula berniat menumpang buang hajat di rumah kepala desa. Namun Aswin mencegahnya. Ia beralasan ayahnya bersitegang dengan kepala desa.
Aswin yang duduk di kelas 4 SD hobi membaca. Semua buku di perpustakaan sekolah habis dilahapnya. Bahkan tak jarang ia membaca sebuah buku lebih dari satu kali.
Koran pun dibaca Aswin. Kenaikan harga kedelai menjadi hal yang menarik untuknya. Namun lingkungan sekitar menganggap kelakuannya aneh. Tak seperti anak desa pada umumnya yang gemar bermain di alam.
Suatu hari guru menerangkan mengenai WC leher angsa. Karena tak ada gambaran perihal bentuk WC tersebut, Aswin menyarankan guru beserta para murid mendatangi rumah kepala desa. Pasalnya, hanya kepala desa yang memiliki WC leher angsa. Sayangnya niat mereka ditolak secara halus oleh kepala desa.
Tak hilang akal, Aswin dan teman-temannya usai pulang sekolah diam-diam mendatangi rumah kepala desa yang sepi. Saat itu kepala desa tengah memimpin rapat. Aswin mengamati dengan cermat WC leher angsa. Lalu ia menggambarnya detail demi detail. Bergantian teman-temannya melihat WC leher angsa. Mereka terkagum-kagum.
Di suatu siang Aswin menemukan ayahnya terbaring karena terkena bisul. Ia menilai hal itu disebabkan dosa dari perbuatan ayahnya. Dengan kata lain ayahnya tengah dihukum Tuhan.
Saat itu Aswin mengungkapkan isi hatinya bahwa ayahnya penyebab kematian ibu kandungnya. Bukan karena ‘kehendak Tuhan’ sebagaimana yang selalu disampaikan sang ayah. Menurut saya momen itu cukup menguras air mata. Anak seusia Aswin tak segan-segan mengeluarkan semua isi hati yang mungkin selama ini dipendamnya.
Aswin mengutarakan bahwa ia sungguh merindukan almarhum ibunya. Pada saat yang bersamaan ibu tirinya berada di sisi Aswin dengan mengatakan bahwa suaminya selalu menunda mewujudkan keinginan anaknya dengan berbagai alasan.
Mendengar semua itu sang ayah terdiam. Ia berjanji akan segera membelikan sepeda untuk Aswin. Namun Aswin menolak. Menurutnya, jauh lebih baik sang ayah membangun WC leher angsa untuk ibu tirinya.
Walaupun sang ibu sudah terbiasa buang hajat di sungai, Aswin tak tega melihatnya. Ia bermimpi kelak rumahnya memiliki WC leher angsa seperti kepala desa. WC leher angsa menjadi tema besar yang menguras pikiran Aswin hari.
Hari itu pun datang. Sang ayah berhasil membangun WC leher angsa di balik bilik bambu. Warga sekitar menyambut dengan sukacita.
Bertahun-tahun kemudian semakin banyak warga yang membangun WC leher angsa di rumahnya. Namun demikian masih ada warga yang tak mampu secara finansial memasang WC leher angsa. Ada pula warga yang tidak mau mengubah kebiasaan. Mereka memilih merendam sebagian badan di dalam air saat buang hajat.

Bersyukur
Menarik menyimak persoalan sanitasi dari film ‘Leher Angsa’. Data BPS pada 2017 menunjukkan sekitar 63,32% rumah tangga di Indonesia memiliki jamban sendiri dan dilengkapi tangki septik.
Sementara itu pada tahun yang sama WHO menyatakan, Indonesia menempati peringkat ketiga negara yang memiliki sanitasi terburuk atau tidak layak. Peringkat pertama ditempati India dan peringkat kedua Tiongkok.
Seperti apa sanitasi yang layak itu? Tersedianya air bersih serta sarana dan pelayanan pembuangan limbah kotoran manusia. Jika diperhatikan perbaikan sanitasi pedesaan memang lebih lambat dibandingkan perkotaan.
Hal itu disebabkan masyarakat belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang pentingnya sanitasi yang bersih dan sehat serta dampaknya terhadap kesehatan dan kesejahteraan. Faktor lainnya adalah akses fasilitas sanitasi yang belum memadai, masyarakat belum mendukung perilaku hidup bersih dan sehat, serta keterbatasan kemampuan ekonomi. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah sektor sanitasi belum menjadi prioritas pemerintah.
Setelah menyaksikan film ini selayaknya kita bersyukur. WC leher angsa itu jamak ditemui di rumah, sekolah, kantor, termasuk mall di kota besar. Kita bisa buang hajat dengan nyaman tanpa khawatir dimata-matai orang lain seperti yang dirasakan ibu tiri Aswin. Kita juga tidak membutuhkan waktu lama berjalan menuju WC.
Film ‘Leher Angsa’ menghadirkan artis papan atas, yaitu Lukman Sardi, Alexandra Gottardo, Ringgo Agus, dan Tike Priatnakusumah. Mereka beradu akting dengan Aswin yang diperankan Bintang Panglima yang pernah tampil di Musikal Laskar Pelangi.
Pesan lain yang dihadirkan dari film ini adalah persahabatan antara Aswin, Johan, Sapar, dan Najib. Eratnya pertemanan mereka terlihat saat Aswin membawakan lauk ikan asin untuk Sapar yang sakit. Ia memang hidup dalam kekurangan.
Film ‘Leher Angsa’ yang ditujukan bagi semua umur ini juga mengajarkan arti kehilangan orang yang sangat dicintai. Hal itu tampak saat Aswin harus berpisah dengan ibu kandungnya dan Sapar yang harus menerima kenyataan ditinggalkan ayahnya. Kini mereka hidup di dua dunia yang berbeda.
Sepanjang menonton film ‘Leher Angsa’ saya disuguhi pemandangan pegunungan, perbukitan, hutan bambu, sampai ayam yang bebas berkeliaran. Pemandangan yang menjadi barang mahal untuk kita yang tinggal di kota.
Satu hal yang perlu diberikan jempol adalah momen Aswin yang terhanyut saat membaca. Kita patut bersyukur tinggal di kota dengan aneka fasilitas yang memanjakan. Begitu banyak perpustakaan baik yang dimiliki pemerintah atau swasta yang bisa disinggahi. Perpustakaan dengan aneka koleksi yang rasanya butuh waktu panjang untuk membacanya.
Sementara itu di pedalaman Indonesia masih banyak anak yang ingin membaca tapi terhambat pada persoalan distribusi buku. Mayoritas buku pelajaran yang ditemui. Mereka butuh variasi tema bacaan yang tentunya akan semakin menambah wawasan.
Persoalan literasi ini tampaknya masih menjadi masalah klasik. Walaupun demikian mulai bermunculan individu atau komunitas yang menggerakkan literasi. Mereka menumbuhkan kecintaan membaca pada anak-anak dan masyarakat.
Film ‘Leher Angsa’ yang ditayangkan di TVRI pada 8 Juni lalu merupakan bagian dari Program Belajar dari Rumah. Program yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut merupakan alternatif pembelajaran bagi pelajar yang terdampak pandemi COVID-19.

Belum Ada Komentar

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *